Setelah satu hari berganti, maka waktu 24 jam tersebut akan hilang dan tidak akan mukin akan kembali lagi. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang anda kepada orang yang sangat anda sayang dan anda cintai, sebelum waktu itu berlalu dan anda menyesalinya...

Minggu, 17 November 2013

ANTARA ANUGERAH DAN SIKSA

Ingin menjadi berarti
Menghadirkan semua yang terindah
Selanjutnya terdiam diantara daun-daun
Angin yang berhembus menerbangkan
Putik-putik sari yang masak
Akankah menjadi berarti ?

Segala telah menjelma
Mungkin merubah dirinya
Menjadi sesuatu yang berharga
Yang dapat terlihat langit
Namun dapat ditemukan di dasar laut
Sebenarnya ingin menjadi apakah ini ?

Biarlah .......
Aku menjadi segumpal debu
Yang akan tertiup oleh siulanmu
Atau oleh tawamu
Semua ini Anugrahkah, atau Siksa ???

RINDU KUPASUNG

Musim basah perlahan beranjak
Tapi mendung parasku tak pula merangkak
Masih dingin, berselimut rindu melonjak
Desir angin menderu, lamunan pun tersentak
Masihkah sanggup kupendam rasa menenggak?

Bagaimana mungkin rindu kupagut
Pada kata-kata nan syahdu
Bila bibirmu mengatup?

Bagaimana mungkin rindu kusemai
Pada bilur-bilur rasa menderai
Saat sukmamu menutup?

Bagaimana mungkin kulukis rindu
Pada warna-warna indah menyatu
Kalau bingkai tak coba kau padu?

Maka lebih baik rindu kupasung
Pada alunan gitar berdenting
Atau pada dahan rasa menggantung
Semoga rindu tak makin melengking
Sebab aku tak ingin lagi biarkan sunyi menggenang……

Jumat, 18 Oktober 2013

GEMBALA YANG PEDULI

1.      Pendahuluan

Kitab Yehezkiel merupakan salah satu kitab dalam Perjanjian Lama yang berasal dari zaman pembuangan sekitar tahun 593-571 SM.Kitab Yehezkiel menggambarkan tahapan baru dari nubutan Israel. Yehezkiel adalah seorang nabi yang dipanggil dan diperintahkan Tuhan untuk memberitakan Firman keselamatan melalui nubuatan guna menghibur dan menguatkan umat Israel yang berada di dalam pembuangan Babel. Di mana umat itu sedang menghadapi pergumulan yang sangat berat, pergumulan itu adalah sulitnya beribadah kepada Tuhan dan sebagai warga Negarapun kebebasaNnya dibatasi. Mereka diwajibkan untuk menyembah kepada dewa-dewa dan tidak mendapatkan keadilan dan keamanan dari raja (negara). maka umat tersebut berputus asa dan sangat menderita dalam menjalani kehidupannya sehari-hari di tanah pembuangan tersebut. Dan di dalam keputusasaan bangsa itu ada juga yang mau tunduk dan beribadah kepada dewa-dewa di Babel, terlebih di kalangan para imam dan pemimpin Israel mereka bukan meneguhkan dan mengembalakan umatnya malah menyesatkan dan menindasnya sehingga lahirlah paham sinkritisme yang membuat umat Israel menjadi tambah menderita. Di dalam situasi yang demikianlah Allah memanggil Yehezkiel agar hadir dan tampil di tengah-tengah umat itu untuk menyatakan rencana Allah bagi mereka. Sesuai dengan namanya Yehezkiel yang memiliki arti “Allah menguatkan”, suatu nama yang membawa harapan dan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan Israel di tanah pembuangan.

2.      Penjelasan Nas

Ayat 11-16. Di dalam Yeh. 34, Allah menyatakan diriNya sebagai gembala atas umatNya. Konteks dari Yeh. 34 adalah para pemimpin umat Israel waktu itu tidak melakukan peran dan tanggungjawabnya selaku gembala. Mereka justru mengeksploitasi umat dengan mengambil, merampas atau memanfaatkan harta milik umat untuk kepentingan diri. Di Yeh. 34:3-4, Allah menegur para pemimpin umat Israel yaitu: “Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman”. Jadi para pemimpin umat Israel tidak memerankan tugasnya selaku seorang gembala yang dipanggil untuk  melindungi dan menjaga umat; mereka juga memanfaatkan umat gembalaannya sekedar obyek pelengkap dan korban pemuas keinginan diri mereka. Akibatnya umat Allah menjadi orang-orang yang teraniaya dan terserak, karena mereka saling mencari perlindungannya masing-masing.  Dalam situasi demikian, Allah segera bertindak dengan mencari umat yang hilang dan tercerai-berai, mengumpulkan mereka satu-persatu, memberikan rumput dan pembaringan yang subur dan mengobati mereka yang terluka. Yang jelas dalam tindakan dan karyaNya tersebut, Allah menampilkan diri sebagai Tuhan yang membela setiap orang yang lemah dan menderita. Namun juga Tuhan tetap berlaku adil, sehingga mereka yang gemuk dan yang kuat tetap berada dalam perlindunganNya. Allah menampilkan diri bukan hanya menjadi Tuhan penyelamat atas orang-orang yang miskin dan tidak berdaya, tetapi juga Dia adalah Tuhan bagi setiap orang yang kaya dan sehat namun hidup benar. Di dalam Yeh. 34:16, Allah berfirman: “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya”. Dengan demikian yang dimaksud dengan umat gembalaan Allah bukan hanya tertuju kepada orang-orang miskin yang menderita, tetapi juga kepada setiap orang yang hidup sehat dan sejahtera.
Ayat 17-19. Menyatakan bahwa Allah adalah Gembala yang Agung, gembala bagi umat Israel dan para gembala (pemimpin Israel). Allah akan menjatuhkan hukuman kepada umat yang tidak setia dan gembala-gembala yang tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Allah menghakimi mereka dengan adil. Sesuai dengan apa yang telah di lakukannya yaitu dengan menghabiskan padang rumput yang hijau dan mengnjak-injaknya dan juga meminum air yang jernih, sehingga air itu pun menjadi keruh. Hal ini berarti kekuatan, kejayaan prilaku semena-mena dari para gembala yang tidak bertanggung jawab itu akan berakhir, dan Allah sendiri akan mengkahirinya. Ia akan menjadi hakim diantara gembala-gembala. Itu berarti Ia akan menyatakan kesalahan dan membela kebenaran, bahkan Ia sendiri bertindak sebagai penolong. Daud adalah gembala Israel yang dijanjikan akan membawa pemulihan bagi Israel, dan pemulihan yang mengarah pada kesempurnaan hidup itu terus akan terjadi melalui karya Kristus yang lahir dari keturunan Daud (bd. Pslm 89:5,21,30; Yer. 23:5-6). Janji penyertaan dan pemulihan ini diberikan semata-mata karena bangsa Israel adalah domba-domba Allah, atau milik Allah. Ia tidak akan menelantarkan umatNya.

3. Refleksi.

Sikap yang paling menonjol dari sifat seorang gembala adalah memberi perlindungan kepada domba-dombanya dari serangan binatang buas seperti serigala atau beruang. Hal yang kedua adalah membimbing atau menggiring dombanya ke tempat dimana ada rumput yang banyak. Kemudian gembala memberi minum kepada domba-dombanya. Dan yang terakhir gembala menggiring domba-dombanya kembali masuk ke dalam kandang untuk beristirahat (bd. Maz. 23). 
Pertolongan dan kepeduliaan Allah sebagai seorang Gembala untuk melepaskan umatnya dari ketidak adilan dan ketertindasan menandakan bahwa bumi ini penuh dengan kasih setia TUHAN. Siapakah Gembala itu. Dalam Yoh. 10:11, Yesus mengatakan : Akulah gembala yang baik, gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Yesus telah mati di kayu salib dan telah bangkit untuk menebus dosa-dosa manusia.Yesus adalah gembala dan kita adalah domba-domba-Nya. Sebab itu bagi kita yang percaya kepada Yesus maka kita akan mendapatkan apa yang diberikan oleh seorang gembala kepada domba-dombanya yaitu perlindungan, bimbingan, dan keselamatan. Sebagai Gembala Yang Baik, Yesus memenuhi tiga ciri ini yakni: Pertama, memberikan nyawa untuk domba-domba. Kedua, mengenal mereka dan mereka mengenal Dia. Ketiga, mengusahakan persatuan semua kawanan domba (bdk. Yoh 10). 

Maka jelas kalau Yesus mengatakan Gembala Yang Baik berbeda dengan orang upahan. Orang upahan cenderung mengutamakan kepentingan diri. Orang upahan sama sekali tidak peduli akan kesulitan dan tantangan, tetapi Gembala Yang Baik bersedia mengorbankan hidup-Nya untuk manusia dan menyelamatkan yang tersesat. Amin.

Sabtu, 08 September 2012

Berdamai dengan Sesama


Saat ini, kita akan belajar mengasihi orang yang berbeda pendapat dengan kita. Setiap orang bebas berpendapat. Akan tetapi, kita tidak bisa memungkiri bahwa kebebasan tersebut bisa saja menimbulkan perselisihan antarsesama

BEDA PENDAPAT, TIDAK MASALAH
Orang-orang Kristen bisa saja tidak sependapat. Kadang-kadang kita mengalami perbedaan pendapat dan berusaha memberikan alasan-alasan untuk membenarkan pendapat kita.
Padahal, beda pendapat, hikmat, dan prinsip-prinsip alkitabiah dapat merangsang adanya diskusi yang sehat dan mengarahkan dalam mengambil keputusan-keputusan yang tepat.
Kesulitannya adalah membuat diskusi tetap bersemangat tanpa bersifat merusak, sebab apabila kita menjadi marah atau frustrasi, maka kita berdekatan dengan dosa.
Percakapan-percakapan yang merusak meninggalkan kepahitan dalam suatu hubungan. Tetapi, jika kita memutuskan untuk saling menghindari, maka kita melanggar perintah-perintah Alkitab.

Setiap kita perlu melatih diri dengan keterampilan ketidak sepakatan yang sehat.
Keterampilan dalam ketidak sepakatan akan membantu kita hidup dalam keselarasan. Alkitab memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk tidak sepakat dan setiap pihak benar. Allah lebih peduli pada sikap kita masing-masing terhadap satu sama lain dibandingkan pendapat kita tentang sebuah masalah.

Menjadi benar dengan cara yang salah bisa saja terjadi.
Oleh sebab itu, dalam jangkauan-jangkauan di mana Alkitab memberikan kebebasan untuk tidak sependapat, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak sependapat secara ikhlas.

Roma 15:1-13 memberikan dua cara untuk tidak sepakat dengan ikhlas.
Pertama, "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (ayat 2)
Kedua, "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." (ayat 7)

SALING MENYENANGKAN
Dalam Roma 15:1-6, perintah pertama meletakkan tanggung jawab pada orang yang kuat. Orang yang kuat harus menyenangkan yang lemah (Roma 15:2).  Menyenangkan seseorang berarti berperilaku dalam cara-cara yang membangun pihak yang lemah secara rohani.
Coba pikirkan suatu perilaku yang diperdebatkan tetapi Anda kuat dalam perilaku itu. Lalu tanyakan pada diri Anda, "Apakah aku mau melepaskan?"

Misalnya, ibu mertua Anda berpikir semua tarian adalah salah, sementara Anda ingin anak perempuan Anda ikut dalam kursus tari. Siapa yang menyerah? Jika ibu mertua Anda memiliki suatu sikap farisi, legalistik tentang semua jenis tarian, Anda boleh memilih untuk mengabaikan pendapatnya.

Yesus pun terkadang mengabaikan orang-orang Farisi. Salah satu contohnya ketika murid-murid Yesus memungut bulir-bulir gandum untuk dimakan ketika mereka melewati ladang-ladang gandum pada hari Sabat (Markus 2:23-28).
Yesus mengetahui ajaran tradisional yang dianut oleh orang-orang Farisi, namun Ia tidak mengatakan sesuatu kepada para murid-Nya guna memperingatkan atau menghentikan mereka, sehingga tidak lagi menyinggung perasaan orang Farisi.

Kadang, Yesus tetap melanjutkan tugasnya, meskipun bertentangan dengan tradisi dan pendapat legalistik orang Farisi.
Contoh lain bisa ditemukan di Markus 3:1-6, di mana Yesus memilih perselisihan-perselisihannya dengan hati-hati.
Yesus memerintahkan agar kita "mencari kesenangan sesama kita" (Roma 15:2).  Sesama di sini berarti orang-orang Kristen di dekat Anda.
Dalam kasus perbedaan pendapat antara Anda dan ibu mertua Anda, semua bisa diselesaikan dengan damai. Jika ibu mertua Anda tinggal di kota lain, Anda bisa membiarkan anak-anak Anda mengikuti kursus menari, tetapi jika Anda sering menjalin kontak dengan ibu mertua Anda, jalan terbaik adalah tunduk kepada ibu mertua Anda. Dari hal ini kita melihat sering kali keputusan-keputusan kita tergantung pada situasi. Keputusan yang kita ambil dipengaruhi oleh orang yang ada di dekat kita.

Contoh lain, seorang suami mengizinkan dan menganggap wajar jika seorang wanita/istri menggunakan celana panjang ketika mengikuti kebaktian di gereja. Tetapi sang istri tidak sependapat. Siapa yang harus tunduk? Suami ataukah istri? Alkitab menyerahkan tanggung jawab pada suami untuk tunduk pada istrinya supaya dapat menyenangkan istrinya.  Sebaliknya, sang istri dibiarkan untuk tidak sepakat dengan suaminya, dan sang suami tidak kecewa jika istrinya memakai rok ke gereja.
Bagaimana jika situasinya berbeda? Bagaimana jika sang istri berpikir tidak ada salahnya memakai celana panjang ke gereja dan sang suami berpikir sebaiknya tidak demikian? Jika demikian sang istri perlu tunduk pada suaminya. Sang istri seharusnya memakai rok guna menyenangkan suaminya.

Seberapa jauh kita bertindak dalam hal ini? Seberapa banyak kebebasan yang sebaiknya kita tinggalkan demi seseorang yang lain dalam tubuh Kristus? Alkitab memusatkan perhatian pada Yesus Kristus, teladan kita, yang meninggalkan kebebasan-Nya demi kita (Roma 15:3a). Jika Kristus tidak menyenangkan diri-Nya sendiri, maka kita hendaknya mengikuti perintah-Nya. Teladan Kristus dinubuatkan oleh Alkitab dan Alkitab memberikan apa yang kita perlukan (Roma 15:4).

SALING MENERIMA
Saling menerima merupakan kunci kedua yang Alkitab berikan agar kita mampu untuk tidak bersepakat secara ikhlas (Roma 15:7-13).
Penerimaan menuntut kasih. Saling menerima berarti kita memberikan kasih kita yang tulus dan murni. Ketidaksepakatan terkadang melukai perasaan orang lain. Apabila hal ini terjadi, meskipun kita terluka, kita harus menunjukkan kasih melalui tindakan-tindakan kita dan berani mengampuni orang yang berbeda pendapat dengan kita. Dalam kasus ini, Tuhan Yesus memberikan teladan kepada kita -- Ia menerima orang Yahudi (Roma 15:8) dan Kafir (Roma 15:9-12).

Saat ini banyak orang Kristen bersikap seperti orang kafir. Mereka merasa bebas untuk merokok, minum anggur, berdansa, atau memiliki sebuah gambar Yesus di dinding rumah mereka. Apakah Yesus akan menerima orang seperti ini? Ya, Allah menerima orang kafir ini (Roma 14:3b).
Orang "Yahudi" Kristen yang sangat hati-hati harus belajar menerima orang "kafir", begitu pula sebaliknya. Mengapa? Sebab "Kristus juga telah menerima kita" (Roma 15:7).

Alkitab tidak menginginkan hal-hal yang meragukan menjadi penghalang untuk kita mengampuni. Orang Kristen harus sepakat bahwa sesuatu diperbolehkan atau benar, tetapi ia diperintahkan supaya mempertahankan sikap bersatu dan menerima orang Kristen lain yang berbeda pendapat dengan dirinya.
Orang-orang Kristen bebas untuk bekerja pada hari Minggu dan harus mengasihi orang-orang percaya lain di sekitarnya. Tidak sepakat dengan ikhlas berarti meninggalkan kebebasan-kebebasan demi orang lain di antara jemaat. Mengapa? Yesus Kristus menerima mereka apa adanya. Ia tidak menyuruh mereka mengubah pendapat-pendapat mereka. Beban tanggung jawab ada pada yang kuat supaya berhenti melakukan hal-hal tersebut yang dirasa salah oleh orang Kristen yang lain.

Kadang, kita merasa sulit mendengar Alkitab berkata kepada kita supaya meninggalkan hal-hal yang kita nikmati demi orang lain.
Kita bertanya-tanya sampai berapa lama kita harus membatasi kebebasan-kebebasan kita dalam hubungan-hubungan tertentu. Akankah teman-teman yang lebih lemah menjadi kuat? Apakah kita mampu menikmati kebebasan-kebebasan kita? Kita memerlukan doa. Kita perlu tahu bahwa kita berbuat hal yang benar, dan Allah yang akan memberi kita sukacita dan damai sejahtera pada saat kita meninggalkan kebebasan-kebebasan kita. Kita akan berlimpah dalam pengharapan hanya oleh kuasa Roh di dalam diri kita, karena kita berkorban demi orang-orang yang Allah kasihi.
Orang-orang Kristen yang tidak sepakat sering bertengkar akibat masalah-masalah kecil. Perselisihan mereka mungkin menyebabkan mereka memaksakan ketegangan-ketegangan dalam hubungan mereka, sehingga akhirnya mereka merasa tidak nyaman bila saling bertemu.

Bagaimana mereka mengakhiri perselisihan?
Cara yang paling lazim adalah berpisah. Orang-orang Kristen yang merasa tidak puas kadang membentuk gereja sendiri di tempat lain. Tindakan menghindar menjadi suatu cara hidup lebih dari sekadar suatu gaya manajemen konflik berkala. Pada dasarnya, kecenderungan manusia adalah menghindar; sementara cara Tuhan adalah menerima.
Apabila kita mengatasi ketidaksepakatan terhadap masalah-masalah dengan cara kita sendiri lebih daripada cara Allah, kita sesungguhnya gagal bersepakat secara ikhlas.


Jumat, 07 September 2012

Teori Perilaku Manusia


Dari semenjak kita dilahirkan ke dunia ini,manusia telah dibekali anugrah yang sangat berharga untuk menjalani hidup ini. Hanya saja kita kita kurang peka,dan kurang mensyukuri anugerah tersebut.
Aliran Psikologi Behavioristik (PERILAKU) Terdapat juga dalam ilmu Psikologi yaitu meyakini adanya empat anugerah unik manusia sehingga membuatnya berbeda dengan mahkluk yang lain.

Empat anugerah manusia tersebut antara lain :

1.       Kesadaran diri

Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengambil jarak terhadap diri sendiri dan mengolah pemikiran, motif-motif, sejarah, naskah hidup, tindakan, maupun kebiasaan dan kecenderungan. Hal ini memungkinkan manusia untuk melepaskan kacamata diri. Kesadaran diri memungkinkan untuk melihat kacamata itu sendiri maupun melihat melaluinya. Ini memungkinkan manusia untuk menjadi sadar akan sejarah sosial dan psikis dari program-program yang ada dalam diri,dan khayalak luas serta untuk memperluas celah antara rangsangan dan tanggapan yang akan terjadi maupun sudah terjadi.

2.       Hati Nurani

Hati nurani menghubungkan manusia dengan kebijaksanaan jaman dan kebijaksanaan hati. Ini merupakan sistem pengarahan yang ada dalam jiwa manusia, yang memungkinkan manusia untuk memahami ketika manusia bertindak atau bahkan merenungkan sesuatu yang sejalan dengan prinsip. Ini juga memberi manusia pemahaman akan bakat-bakat alami dan misi manusia,lalu kemudian mencari cara dalam memecahkan solusinya.

3.       Kebebasan Dalam Berkehendak

Kehendak bebas adalah kemampuan manusia untuk bertindak. Ini memberi manusia kekuatan untuk mengatasi paradigma-paradigma diri, untuk berenang melawan arus,untuk bertindak atas dasar prinsip dan bukannya bereaksi atas dasar emosi dan lingkungan sekitar. Sementara pengaruh-pengaruh genetis dan lingkungan boleh jadi amat kuat,manusia bukan merupakan produk masa lalunya. Manusia merupakan produk dari pilihan pilihannya. Manusia dapat memberi tanggapan (response-able)—mampu memberi tanggapan, mampu memilih diseberang suasana hati dan kecondongan-kecondongannya. Manusia memiliki kekuatan kehendak untuk bertindak berdasarkan kesadaran diri, hati nurani, dan visi.

4.       Imajinasi Untuk Lebih Berkreasi

Imajinasi kreatif adalah kemampuan untuk meneropong keadaan dimasa datang, untuk menciptakan sesuatu dibenak manusia, dan memecahkan soal secara sinergis. Ini adalah anugerah kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melihat dari diri sendiri dan orang lain secara berbeda dan lebih baik daripada saat ini. Ini memungkinkan seseorang untuk menulis pernyataan misi pribadi, menetapkan tujuan, atau merencanakan suatu pertemuan. Ini juga membuat seseorang semakin mampu memvisualisasikan diri yang sedang menghayati pernyataah misi pribadi, bahkan dalam lingkungan yang paling menantang, dan untuk menerapkan prinsip-prinsip dalam berbagai situasi baru secara efektif.

Dengan mengembangkan dan menggunakan empat anugerah tersebut, manusia akan terberdayakan dan memiliki konsep diri yang kuat, sehingga mampu membuat pilihan sikap dan tindakan yang bijaksana atas situasi atau stimulus yang ia diterima. Sebaliknya, orang yang mengabaikan dan membiarkan empat anugerah yang ia miliki tidak berkembang, sehingga perilaku dan pilihan sikapnya tidak efektif, sehingga ia mudah untuk dikendalikan oleh lingkungan, tekanan sosial atau suasana hatinya.

Rabu, 05 September 2012

Komitmen Perbuatan Kristen


Nats : Kolose 3:23-24
3:23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
3:24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

1.       Komitmen.
Komitmen adalah janji setia, tekad atau ketetapan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang disertai dengan tanggung jawab.
Artinya, komitmen akan membuat suatu janji dapat dipercaya karena adanya rasa tanggung jawab dan tekad untuk melakukannya.
Dalam arti luas, komitmen menunjuk pada adanya tekad untuk setia pada sesuatu (organisasi, perusahaan, gereja dsb) atau seseorang (perkawinan). Sebagai contoh, seorang suami yang berkomitmen terhadap perkawinannya pasti tidak akan pernah berselingkuh meskipun mungkin istrinya telah menjadi tua, gemuk, sakit-sakitan dsb. Komitmen akan bertahan selamanya, sebab komitmen tidak dipengaruhi oleh perasaan, suasana hati dan sebagainya.

Dasar dari setiap komitmen yang kita lakukan adalah karena cinta Tuhan yang telah mengasihi kita (Yohanes 3:16).
Cinta kepada Tuhan akan membuat kita mengasihi Dia diatas segalanya dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22:37-40). Dengan dasar itulah, maka setiap orang seharusnya memberi diri untuk melayani Tuhan, dan bukan diatas dasar yang lain.

2.       Perbuatan.
Ayat 23 tersebut mengajarkan kepada semua orang Kristen agar dalam segala aspek kehidupan, hendaknya setiap orang percaya melakukan perbuatannya itu dengan motivasi (dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan) yang tulus, benar dan dengan segenap hatinya, berbuat seperti sedang berbuat untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Mengapa? Karena Tuhan sendiri akan menentukan suatu pemberian penghargaan atau upah (ayat.24) kepada setiap anak-anak-Nya.

Apapun juga yang dilakukan/diperbuat oleh seorang Kristen untuk mempermuliakan Tuhan, maka sesungguhnya jerih payah tersebut tidak pernah akan menjadi sia-sia.  Alkitab menegaskan kepada kita: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58).

3.       Menumbuhkan Komitmen untuk Berbuat :
  1. Cinta Tuhan dan Sesama.
Cinta Tuhan dan Sesama melahirkan sebuah komitmen untuk berbuat. Cintai Tuhan, cintai gereja atau organisasi pelayanan dimana kita berada dan jadikan sebagai rumah kita. Maka cinta itu akan melahirkan komitmen untuk mencintai panggilan Tuhan dan pelayanan yang dipercayakan-Nya serta melakukan pelayanan dengan segenap hati (bukan lagi sekedar rutinitas atau pekerjaan pelayanan).

Yesaya 58:7 – 11
58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.
58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku

25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
  1. Tanggung Jawab.
Roma 14:10 – 12
14:10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.
14:11 Karena ada tertulis: "Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah."
14:12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

2 Korintus 5:10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.
Mengerti tanggung jawab merupakan ciri kedewasaan.
Orang yang bertanggung jawab dengan pelayanan, pasti akan selalu melakukan evaluasi diri, mencari kelemahan dan kekurangan dalam pelayanannya, dan berusaha memperbaiki kualitas hidup dan pelayanannya sehingga mengalami pertumbuhan kualitas pelayanan yang tentunya terlihat dari komentar atau reaksi dari sesama pelayan Tuhan maupun jemaat yang dilayani.

Roma 11:22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.

Kolose 3:25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

Catatan : Dalil = Keterangan yang dijadikan bukti atau alasan untuk suatu kebenaran;  Patokan; Pendapat atau argument yang dikemukakan dan dipertahankan atau diyakini sebagai suatu kebenaran.

Belas Kasihan Kepada Orang Miskin


Baca Alkitab :  Galatia 2:1-10 

"hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya."  Galatia 2:10

Di dalam Yakobus 1:27 dikatakan : 
"Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." 

PENDAHULUAN :
Ibadah kita kepada Tuhan tidak hanya cukup terlihat aktif menghadiri kebaktian-kebaktian, terlibat pelayanan di gereja dengan baju seragam yang eyecatching, melalui suara kita yang indah saat memuji-muji Tuhan atau melalui doa-doa yang kita panjatkan dengan bahasa begitu indah sehingga menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.
Tetapi ibadah juga merupakan sebuah tindakan kasih kita dalam bentuk nyata.  Banyak di antara kita tampak seperti malaikat saat berada di gereja, tapi sepulang dari ibadah kita cuek dan don't care terhadap orang lain. 

Maksudnya: Kasih kita kepada Tuhan hanya dalam bentuk kata-kata tetapi harus juga dalam perbuatan nyata yang kita tunjukkan kepada saudara kita yang miskin.  Inilah kesempatan kita untuk menyatakan kasih.

Jika kita mau melihat dunia sekeliling kita, dunia ini bukanlah seperti apa yang kita pikirkan. Kadang kita terlalu sibuk untuk mengerti, tetapi seringkali kita melupakan untuk tetap memperhatikan.
Banyak anggota jemaat di Gereja kita hidup dalam kekurangan:  para janda, atau anak yatim piatu, terlantar dan kesulitan biaya untuk sekolah dan lain-lain.  Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kasih kita. 

Inilah yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia agar mereka juga mau memperhatikan dan membantu orang-orang miskin dalam tindakan nyata.  Kita harus menyatakan kasih kita kepada Tuhan melalui perbuatan kasih dalam bentuk amal dan sedekah. 

Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa apa yang kita lakukan kepada orang miskin dan berkekurangan adalah bukti bahwa kita mengasihi Tuhan, dan itu sama dengan kita melakukannya untuk Tuhan. 

a)      Tuhan Yesus berkata,  "...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku."  (Matius 25:40, 45).
b)       Ini suatu peringatan bagi orang-orang Kristen yang berlimpah secara materi supaya mereka  "...berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi"  (1 Timotius 6:18). 
c)       Ingat, iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati! Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
d)       Dengan perbuatan iman menjadi sempurna! Yakobus 2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

IMPLIKASI :
"Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu."  Amsal 19:17