Minggu, 01 Februari 2015

Focus Mengarahkan Diri

Nats: Filipi 3:13
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.

Tidak dapat disangkal bahwa fokus adalah salah satu elemen penting bagi seseorang untuk mencapai tujuan. Ada kekuatan yang luar biasa di balik sebuah tujuan yang terarah dengan tajam. Bayangkan betapa hebatnya tenaga sinar matahari yang diarahkan dengan fokus kepada sebuah titik melalui kaca pembesar. Titik kecil yang terarah itu dapat membakar habis sebuah kertas, bahkan sebuah hutan.

Sedemikian berbahayanya kekuatan hidup yang terfokus sehingga iblis senantiasa berusaha membuat anak-anak Tuhan sibuk dan bahkan buta akan tujuan hidup mereka yang sesungguhnya. Kadang ada begitu banyak pintu peluang yang terbuka dan membuat kita bimbang untuk melangkah karena seolah semua peluang itu tampak begitu sempurna. Tidak jarang terbersit keraguan apakah pilihan yang akan diambil merupakan keputusan yang tepat dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bagaimana kerinduan rasul Paulus yang terutama adalah untuk mengenal Tuhan dan bersekutu denganNya. Fokus kehidupan Paulus hingga akhir hidupnya adalah senantiasa melekat kepada Tuhan. Itulah yang membuat ia bertahan dalam pelayanannya dan menjadi salah satu rasul terbesar dalam sejarah.

Ketika kita mulai menempatkan kembali Tuhan sebagai prioritas utama kita, percayalah bahwa kekuatan kuasaNya akan bekerja dengan dahsyat melalui hidup kita. Mari awali hari ini dengan mencari Tuhan telebih dahulu, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.

8 Oktober 2012 pukul 7:36

Jangan Kuatir, Tuhan Tak Pernah Kena Krisis.

Salah satu masalah psikologi yang kerap dialami oleh sebagian besar manusia adalah kekuatiran. Tidak jarang banyak orang yang mengalami hal ini menjadi depresi. Padahal kalau mereka mau sedikit berpikir jernih sebenarnya tidak ada yang perlu terlalu ditakutkan.

Kekuatiran biasanya menyerang pertama kali lewat pikiran. Apa yang kita lihat dan dengar menjadi faktor yang sangat kuat akan perubahan yang terjadi di dalam tubuh kita.

Banyak media yang memberitakan bahwa krisis yang terjadi di dunia ini akan berlangsung cukup lama. Sejumlah pakar ekonomi dunia juga belum bisa memprediksi kapan ekonomi global akan membaik. Seorang teman pernah mengatakan (entah bercanda atau tidak) kepada saya bahwa krisis global terjadi karena Kerajaan Surga juga sedang mengalami krisis sehingga Dia tidak dapat membebaskan negara-negara yang mayoritas penduduknya Kristen untuk hidup dalam kebebasan finansial.

Mengejutkan memang ada orang yang berpikir seperti itu, tetapi jangan-jangan ada diantara Anda juga yang berpikir seperti teman saya itu. Anda mengira "dunia menjadi susah karena Tuhan juga susah".

Di dalam Alkitab, banyak ayat yang menunjukkan tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Dari masa ke masa, Dia tetap merupakan sumber Pemelihara manusia yang paling sempurna. Alam semesta ada di bawah kendalinya dan tidak ada satu pun yang tidak dapat dikerjakannya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda dan orang-orang di sekitar Anda adalah tugas mudah bagi Tuhan. Dia dapat melakukan segala sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan. Untuk membuat Anda berkelimpahan juga bukanlah hal yang sulit baginya. Intinya, segala apapun yang Anda butuhkan pasti dapat Tuhan penuhi.

Oleh karenanya, mulai buang jauh-jauh rasa kuatir yang berlebihan dari hidup Anda. Jika Anda adalah orang yang sudah berkeluarga, yakinlah kebutuhan keluarga Anda pasti terpenuhi semua. Bagi Anda yang masih lajang, percayalah Dia dapat mencukupkan segala sesuatu di dalam kehidupan Anda. Untuk para profesional dan pengusaha, berimanlah apa yang Anda kerjakan atau usahakan tidak akan gagal meski di masa-masa sulit sekalipun.

Pegang terus prinsip ini bahwa Tuhan tidak pernah mengalami krisis dan Dia pasti dapat menjaga kehidupan kita dengan baik. Katakan kepada rasa kuatir yang hendak muncul di dalam pikiran dan hati Anda, "Stop hai kau rasa kuatir untuk terus tinggal di dalam kehidupan saya karena engkau tidak layak muncul disini. Tuhan adalah kekuatan dan pemelihara hidupku sehingga aku pun tidak perlu kuatir akan kehidupanku di dunia ini."

12 Oktober 2012 pukul 9:50

Antara Gossip dan Pelayanan.

Jika kita menjadi pemimpin atau pelayan Tuhan yang menonjol, pasti kita punya banyak pendukung. Disamping pendukung kita juga punya banyak oposisi. Seringkali oposisi lebih keras suaranya dan aksinya daripada pendukung. Kadang oposisi tidak segan meluncurkan peluru untuk menghancurkan kita berupa kata-kata yang tidak benar atau di salah artikan. Kata-kata yang tidak berdasar tersebut sering disebut dengan GOSIP.

Kembali kepada hidup yang diperkenan Tuhan, Bagaimana cara kita menghadapi gosip tadi ? Jangan sampai gosip tadi membuat kita marah lantas kita kecewa kepada Tuhan dan menghentikan pelayanan kita. Bahkan adapula karena gosip orang sampai mengundurkan diri dari pertemuan ibadah.
Salah satu penghambat pelayanan adalah gosip. Gosip membuat hal-hal yang belum pasti kebenarannya berkembang menjadi masalah besar. Diperlukan hikmat Allah untuk menentukan apakah suatu gosip perlu diklarifikasi atau lebih baik dibiarkan saja.

Mari kita telusuri dari Firman Tuhan dalam 2 Korintus 10 : 1 -18

10:1 Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.
10:2 Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.
10:3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
10:4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
10:6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
10:7 Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia.
10:8 Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.
10:9 Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku.
10:10 Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.
10:11 Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.
10:12 Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!
10:13 Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga.
10:14 Sebab dalam memberitakan Injil Kristus kami telah sampai kepada kamu, sehingga kami tidak melewati batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu.
10:15 Kami tidak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami. Tetapi kami berharap, bahwa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami.
10:16 Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka.
10:17 "Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."
10:18 Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.

Dalam pasal ini, Rasul Paulus mengungkapkan kekesalannya terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya hanya berani tegas dan keras bila berjauhan (dalam surat saja), tetapi sebenarnya tidak berani bila berhadapan muka (10:10). Rasul Paulus merasa kesal mendengar gosip semacam itu beredar di tengah jemaat Korintus karena dua hal: Pertama, berdirinya jemaat Korintus merupakan hasil pelayanan Rasul Paulus (10:14), sehingga seharusnya jemaat Korintus itu tahu bahwa gosip semacam itu tidak benar. Kedua, bila dibiarkan, gosip semacam itu bisa merusak wibawa Rasul Paulus, karena bila ia berkata keras dan tegas tentang sesuatu hal, perkataannya hanya dianggap sebagai menakut-nakuti dan sebenarnya tidak demikian (10:9).
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita agar tidak menyebar gosip yang akan menghambat pelayanan para hamba Tuhan. Sadarilah bahwa bila kita ikut menyebar gosip, kita sudah menjadi alat di tangan Iblis untuk merusak pekerjaan Allah. Bila ada gosip yang sudah telanjur beredar, ada empat hal yang perlu kita lakukan: Pertama, jangan mudah mempercayai suatu gosip, melainkan telitilah kebenaran gosip itu dengan seksama. Kedua, jagalah mulut kita agar kita tidak ikut-ikutan menyebar gosip yang akan menghambat pelayanan hamba Tuhan yang bersangkutan. Ketiga, bila dirasa perlu, temuilah hamba Tuhan itu untuk mengklarifikasi kebenaran gosip yang beredar. Keempat, doakan hamba Tuhan itu.

Bagaimana kalau kita yang menjadi korban gosip ? Kita perlu belajar dari Saul dimana pada awal pelayanannya Saul bukanlah tipe public figure yang mempunyai banyak penggemar, melainkan banyak orang yang berkata miring atas penampilan Saul, yang seharusnya tidak pantas menjadi Raja orang Israel.

Mari kita lihat 1 Samuel 10:17-27

10:17 Kemudian Samuel mengerahkan bangsa itu ke hadapan TUHAN di Mizpa
10:18 dan ia berkata kepada orang Israel itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku telah menuntun orang Israel keluar dari Mesir dan telah melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan segala kerajaan yang menindas kamu.
10:19 Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu."
10:20 Lalu Samuel menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin.
10:21 Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan.
10:22 Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: "Apa orang itu juga datang ke mari?" TUHAN menjawab: "Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang."
10:23 Berlarilah orang ke sana dan mengambilnya dari sana, dan ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.
10:24 Dan Samuel berkata kepada seluruh bangsa itu: "Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorang pun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu." Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: "Hidup raja!"
10:25 Kemudian Samuel menguraikan kepada bangsa itu tentang hak-hak kerajaan, menuliskannya pada suatu piagam dan meletakkannya di hadapan TUHAN; sesudah itu Samuel menyuruh seluruh bangsa itu pulang, masing-masing ke rumahnya.
10:26 Saul pun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah.
10:27 Tetapi orang-orang dursila berkata: "Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!" Mereka menghina dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli.

Kita sendiripun juga sering mendapat kesan buruk tentang Saul, raja pertama Israel. Namun demikian, Alkitab pun mencatat kebaikannya, khususnya saat ia akan memulai pelayanannya sebagai raja. Sebagai pemimpin ia tahu memilih mana suara yang perlu didengarkan di antara yang sama sekali tidak perlu. Terhadap jerit tangis putus asa bangsanya atas ancaman bangsa Amon, ia mampu mendengar dengan prihatin dan menanggapi dengan sigap (1 Samuel 11:1-7). Sedangkan, atas olokan dan penghinaan segolongan orang yang meragukan kemampuan dan kepemimpinannya, ia bersikap “pura-pura tuli” (ayat 27). Ia tak mau membuang energi sekadar meladeni mereka.
Kita tidak perlu marah terhadap orang fasik yang menghina pelayanan kita. Kita harus dapat seperti Saul yang pura-pura tuli terhadap omongan negatif dari orang-orang "fasik" di sekitar kita. Satu pusat yang wajib dan harus kita dengar adalah FirmanNya, yang setiap pagi wajib kita baca dan renungkan serta kita jalankan. Mengapa kita geram dan marah dengan komentar orang "fasik" ?

Mintalah hikmat dan kesabaran dari-Nya sehingga kita dapat memilah dan memilih mana yang perlu dan tidak perlu kita tanggapi secara serius. Supaya, kita tetap berfokus pada panggilan Tuhan dan tugas utama yang mesti kita kerjakan.

1 Februari 2013 pukul 8:20

Iman dan Kasih

IMAN mambawa hidup kita ke SURGA.
KASIH membawa SURGA ke dalam hidup kita.
 
IMAN memberi kita kekuatan.
KASIH mengalirkan kekuatan bagi orang lain.
 
Dengan IMAN kita melihat TUHAN di dalam dunia.
Dengan KASIH dunia melihat TUHAN di dalam hidup kita.

Minggu, 17 November 2013

ANTARA ANUGERAH DAN SIKSA

Ingin menjadi berarti
Menghadirkan semua yang terindah
Selanjutnya terdiam diantara daun-daun
Angin yang berhembus menerbangkan
Putik-putik sari yang masak
Akankah menjadi berarti ?

Segala telah menjelma
Mungkin merubah dirinya
Menjadi sesuatu yang berharga
Yang dapat terlihat langit
Namun dapat ditemukan di dasar laut
Sebenarnya ingin menjadi apakah ini ?

Biarlah .......
Aku menjadi segumpal debu
Yang akan tertiup oleh siulanmu
Atau oleh tawamu
Semua ini Anugrahkah, atau Siksa ???

RINDU KUPASUNG

Musim basah perlahan beranjak
Tapi mendung parasku tak pula merangkak
Masih dingin, berselimut rindu melonjak
Desir angin menderu, lamunan pun tersentak
Masihkah sanggup kupendam rasa menenggak?

Bagaimana mungkin rindu kupagut
Pada kata-kata nan syahdu
Bila bibirmu mengatup?

Bagaimana mungkin rindu kusemai
Pada bilur-bilur rasa menderai
Saat sukmamu menutup?

Bagaimana mungkin kulukis rindu
Pada warna-warna indah menyatu
Kalau bingkai tak coba kau padu?

Maka lebih baik rindu kupasung
Pada alunan gitar berdenting
Atau pada dahan rasa menggantung
Semoga rindu tak makin melengking
Sebab aku tak ingin lagi biarkan sunyi menggenang……

Jumat, 18 Oktober 2013

GEMBALA YANG PEDULI

1.      Pendahuluan

Kitab Yehezkiel merupakan salah satu kitab dalam Perjanjian Lama yang berasal dari zaman pembuangan sekitar tahun 593-571 SM.Kitab Yehezkiel menggambarkan tahapan baru dari nubutan Israel. Yehezkiel adalah seorang nabi yang dipanggil dan diperintahkan Tuhan untuk memberitakan Firman keselamatan melalui nubuatan guna menghibur dan menguatkan umat Israel yang berada di dalam pembuangan Babel. Di mana umat itu sedang menghadapi pergumulan yang sangat berat, pergumulan itu adalah sulitnya beribadah kepada Tuhan dan sebagai warga Negarapun kebebasaNnya dibatasi. Mereka diwajibkan untuk menyembah kepada dewa-dewa dan tidak mendapatkan keadilan dan keamanan dari raja (negara). maka umat tersebut berputus asa dan sangat menderita dalam menjalani kehidupannya sehari-hari di tanah pembuangan tersebut. Dan di dalam keputusasaan bangsa itu ada juga yang mau tunduk dan beribadah kepada dewa-dewa di Babel, terlebih di kalangan para imam dan pemimpin Israel mereka bukan meneguhkan dan mengembalakan umatnya malah menyesatkan dan menindasnya sehingga lahirlah paham sinkritisme yang membuat umat Israel menjadi tambah menderita. Di dalam situasi yang demikianlah Allah memanggil Yehezkiel agar hadir dan tampil di tengah-tengah umat itu untuk menyatakan rencana Allah bagi mereka. Sesuai dengan namanya Yehezkiel yang memiliki arti “Allah menguatkan”, suatu nama yang membawa harapan dan dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan Israel di tanah pembuangan.

2.      Penjelasan Nas

Ayat 11-16. Di dalam Yeh. 34, Allah menyatakan diriNya sebagai gembala atas umatNya. Konteks dari Yeh. 34 adalah para pemimpin umat Israel waktu itu tidak melakukan peran dan tanggungjawabnya selaku gembala. Mereka justru mengeksploitasi umat dengan mengambil, merampas atau memanfaatkan harta milik umat untuk kepentingan diri. Di Yeh. 34:3-4, Allah menegur para pemimpin umat Israel yaitu: “Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman”. Jadi para pemimpin umat Israel tidak memerankan tugasnya selaku seorang gembala yang dipanggil untuk  melindungi dan menjaga umat; mereka juga memanfaatkan umat gembalaannya sekedar obyek pelengkap dan korban pemuas keinginan diri mereka. Akibatnya umat Allah menjadi orang-orang yang teraniaya dan terserak, karena mereka saling mencari perlindungannya masing-masing.  Dalam situasi demikian, Allah segera bertindak dengan mencari umat yang hilang dan tercerai-berai, mengumpulkan mereka satu-persatu, memberikan rumput dan pembaringan yang subur dan mengobati mereka yang terluka. Yang jelas dalam tindakan dan karyaNya tersebut, Allah menampilkan diri sebagai Tuhan yang membela setiap orang yang lemah dan menderita. Namun juga Tuhan tetap berlaku adil, sehingga mereka yang gemuk dan yang kuat tetap berada dalam perlindunganNya. Allah menampilkan diri bukan hanya menjadi Tuhan penyelamat atas orang-orang yang miskin dan tidak berdaya, tetapi juga Dia adalah Tuhan bagi setiap orang yang kaya dan sehat namun hidup benar. Di dalam Yeh. 34:16, Allah berfirman: “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya”. Dengan demikian yang dimaksud dengan umat gembalaan Allah bukan hanya tertuju kepada orang-orang miskin yang menderita, tetapi juga kepada setiap orang yang hidup sehat dan sejahtera.
Ayat 17-19. Menyatakan bahwa Allah adalah Gembala yang Agung, gembala bagi umat Israel dan para gembala (pemimpin Israel). Allah akan menjatuhkan hukuman kepada umat yang tidak setia dan gembala-gembala yang tidak melakukan tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Allah menghakimi mereka dengan adil. Sesuai dengan apa yang telah di lakukannya yaitu dengan menghabiskan padang rumput yang hijau dan mengnjak-injaknya dan juga meminum air yang jernih, sehingga air itu pun menjadi keruh. Hal ini berarti kekuatan, kejayaan prilaku semena-mena dari para gembala yang tidak bertanggung jawab itu akan berakhir, dan Allah sendiri akan mengkahirinya. Ia akan menjadi hakim diantara gembala-gembala. Itu berarti Ia akan menyatakan kesalahan dan membela kebenaran, bahkan Ia sendiri bertindak sebagai penolong. Daud adalah gembala Israel yang dijanjikan akan membawa pemulihan bagi Israel, dan pemulihan yang mengarah pada kesempurnaan hidup itu terus akan terjadi melalui karya Kristus yang lahir dari keturunan Daud (bd. Pslm 89:5,21,30; Yer. 23:5-6). Janji penyertaan dan pemulihan ini diberikan semata-mata karena bangsa Israel adalah domba-domba Allah, atau milik Allah. Ia tidak akan menelantarkan umatNya.

3. Refleksi.

Sikap yang paling menonjol dari sifat seorang gembala adalah memberi perlindungan kepada domba-dombanya dari serangan binatang buas seperti serigala atau beruang. Hal yang kedua adalah membimbing atau menggiring dombanya ke tempat dimana ada rumput yang banyak. Kemudian gembala memberi minum kepada domba-dombanya. Dan yang terakhir gembala menggiring domba-dombanya kembali masuk ke dalam kandang untuk beristirahat (bd. Maz. 23). 
Pertolongan dan kepeduliaan Allah sebagai seorang Gembala untuk melepaskan umatnya dari ketidak adilan dan ketertindasan menandakan bahwa bumi ini penuh dengan kasih setia TUHAN. Siapakah Gembala itu. Dalam Yoh. 10:11, Yesus mengatakan : Akulah gembala yang baik, gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Yesus telah mati di kayu salib dan telah bangkit untuk menebus dosa-dosa manusia.Yesus adalah gembala dan kita adalah domba-domba-Nya. Sebab itu bagi kita yang percaya kepada Yesus maka kita akan mendapatkan apa yang diberikan oleh seorang gembala kepada domba-dombanya yaitu perlindungan, bimbingan, dan keselamatan. Sebagai Gembala Yang Baik, Yesus memenuhi tiga ciri ini yakni: Pertama, memberikan nyawa untuk domba-domba. Kedua, mengenal mereka dan mereka mengenal Dia. Ketiga, mengusahakan persatuan semua kawanan domba (bdk. Yoh 10). 

Maka jelas kalau Yesus mengatakan Gembala Yang Baik berbeda dengan orang upahan. Orang upahan cenderung mengutamakan kepentingan diri. Orang upahan sama sekali tidak peduli akan kesulitan dan tantangan, tetapi Gembala Yang Baik bersedia mengorbankan hidup-Nya untuk manusia dan menyelamatkan yang tersesat. Amin.