Minggu, 01 Februari 2015

Kerja Sama Antar Gereja.

Gereja mana yang paling benar? Gereja AA sangat bagus dalam pujian penyembahan, tetapi khotbahnya sangat dangkal dan lari dari konteks Alkitab. Gereja BB sangat bagus dalam penafsiran Alkitab tetapi kering di dalam pujian penyembahannya. Gereja AA dihadiri 5000 orang sekali ibadah, sementara gereja BB dihadiri hanya 50 orang. Tetapi kita tidak benar-benar tahu gereja mana yang jemaatnya paling dewasa secara rohani. Jadi gereja mana yang paling benar?
Sulit menjawabnya. Kita tidak ditempatkan pada posisi sebagai hakim. Tidak ada surat pengangkatan satu gereja menjadi hakim terhadap gereja lainnya. Pertanyaan, “Gereja mana paling benar?” adalah pertanyaan yang memposisikan kita sebagai hakim jika patokannya hanya berdasarkan pada bentuk ibadah, isi khotbah, jumlah jemaat, dan musik yang digunakan. Patokan kebenaran adalah keyakinan Gereja pada Alkitab sebagai Firman Allah dan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat satu-satunya.
Entah suatu gereja berjemaat 20.000, 5000, 1000, 50 atau 10 orang, entah suatu gereja memakai 20 jenis alat musik atau hanya satu, entah suatu gereja mengutamakan khotbah yang sangat ketat dalam aturan penafsiran, ataupun lebih topikal dan alegoris (sekalipun seharusnya aturan penafsiran diperhatikan), pertanyaan yang perlu diajukan adalah “Apakah gereja tersebut sedang menjalankan misinya sebagai Gereja?”

Gereja ada sebagai utusan Tuhan untuk memberitakan Kabar Baik. Gereja ada untuk menjadi kesaksian dan sarana saluran kasih dan rahmat Allah kepada manusia melalui Tuhan Yesus Kristus. Gereja juga ada untuk mempengaruhi kehidupan manusia dalam semua aspeknya. Gereja ada untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat agar memiliki kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya yang lebih baik dan berkenan kepada Allah. “Sejauh mana suatu gereja dengan ciri khasnya masing-masing menjalankan misinya?” adalah pertanyaan yang lebih tepat untuk diajukan.
Gereja tidak dipanggil untuk saling bertengkar. Gereja tidak dipanggil untuk menutup diri. Tetapi keberadaan Gereja seharusnya memberi dampak bagi kehidupan spiritualitas jemaat, bagi kehidupan masyarakat sekitarnya, dan bagi dunia yang masih belum mengenal Kristus.
Untuk mencapai misi tersebut, Gereja tidak pernah dimaksudkan untuk berdiri sendiri-sendiri dan terpisah. Gereja digambarkan sebagai sebuah tubuh. Anggota-anggota tubuh itu saling terkait dan mendukung. Ini berarti gereja lokal bekerja sama dengan gereja lokal lainnya untuk meningkatkan spiritualitas umat, mempengaruhi kehidupan masyarakat, dan menjadi saksi bagi anugerah keselamatan Allah.

Tiap-tiap gereja lokal perlu perlu melihat dirinya sebagai bagian dari Gereja secara keseluruhan. Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus ketika dia memintakan sumbangan bagi jemaat yang sedang menderita dan berkekurangan di Yerusalem kepada jemaat yang memiliki kelebihan di Makedonia dan Korintus (II Kor 8). Ini perlu dilakukan agar terjadi “keseimbangan” antara yang berlebihan dan yang mengalami kekurangan yang tidak disebabkan karena kemalasan.
Kerja sama antar gereja lokal bisa dilakukan dalam berbagai tingkat dan bentuk. Kerja sama antar gereja-gereja lokal sekota adalah bentuk kerja sama yang cukup realistis untuk dilakukan. Bentuknya bisa berupa kerja sama dalam doa sekota, pelayanan kepada masyarakat miskin, pelayanan kepada anak-anak jalanan, pembangunan panti asuhan dan gedung sekolah secara bersama-sama, dan kerja sama lainnya.
Kerja sama ini bisa diperluas kepada tingkat nasional hingga dunia. Gereja-gereja lokal bisa mendukung yayasan-yayasan misi di seluruh dunia, mengutus misionaris ke daerah-daerah atau negara lain, terlibat dalam doa nasional dan internasional, serta memberi bantuan-bantuan dalam berbagai bentuk sumber daya kepada daerah yang kekurangan. Ketika mengirim utusan misi ke negara lain, sang utusan tidak perlu mendirikan gereja dengan nama denominasi pengutusnya tetapi menjadikannya sebagai gereja lokal baru yang dipimpin oleh orang lokal. Ketika mengirim utusan ke wilayah lain di Indonesia, gereja bisa bekerja sama dengan gereja lokal yang sudah ada dengan cara memberdayakan dan mengembangkan sumber daya di sana.

Jika masing-masing gereja lokal sadar akan panggilan dan posisinya bersama gereja-gereja lainnya secara universal, maka tidak perlu lagi ada pertanyaan, “Gereja mana yang paling benar?” Tetapi yang lebih krusial adalah seperti yang seseorang katakan tentang Gereja, “Gereja yang akan hidup adalah gereja yang memenuhi tanggung jawab utusan Injilnya.”

Pf. 2 Juni 2012 pukul 9:25

BAHASA HATI

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.

Semua itu haruslah berasal dari hati anda.
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda,
namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya.

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi
hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat.
Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis.
Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.

Mulailah melembutkan hati sebelum memberikannya pada orang lain agar keberhasilan anda juga menjadi motivasi bagi orang lain.


Pf. 4 Juni 2012

Jemaat dan Pemimpin Gereja

Sekitar akhir abad pertama dan awal abad kedua, berkembang sebuah permasalahan di gereja Korintus yang mengakibatkan diberhentikannya beberapa penatua di sana. Clement, Bapa Gereja di Roma, meresponi masalah ini dengan menuliskan surat penggem-balaan yang kemudian dikenal sebagai surat 1 Clement (karena ada surat 2 Clement). Di dalam surat itu, Clement tidak terlalu mempermasalahkan tentang pemberhentian para pemimpin gereja itu sendiri, karena alasan yang mendasarinya dirasa tidak cukup tepat. Sebab menurutnya, seorang pemimpin gereja hanya boleh diberhentikan kalau ada perma-salahan moralitas, tidak boleh karena alasan lain.

Argumennya Clement ini sejalan dengan pendapat Paulus tentang betapa pentingnya kualitas moral seorang pemimpin gereja. Itu sebabnya, sebagian besar syarat para pemimpin gereja adalah berhubungan dengan moralitas dan karakter (Baca: 1 Timotius 3:1-13, dan bandingkan dengan Titus 1:5-9).

Panggilan untuk menghormati pemimpin jemaat juga disuarakan oleh Alkitab, salah satunya di Ibrani 13:17. Penghormatan ini penting karena menurut penulis Ibrani, para pemimpin itu adalah penjaga dan penanggung-jawab jiwa kita. Kalau meminjam ilustrasi yang umum dipakai di bagian lain dari Alkitab, mereka adalah gembala kita. Tapi perintah untuk menghormati ini bukan berarti bahwa para pemimpin gereja memiliki otoritas yang tak terbantahkan. Justru sebaliknya, para pemimpin jemaat memiliki tanggung-jawab yang besar untuk menjaga jemaatnya dan untuk menjaga agar dirinya tidak menjadi pemimpin yang lalim. Ada konsekuensi yang mengerikan kalau pemimpin gereja lalai atau menjadi lalim. Salah satu gambaran yang mencengangkan tentang ini dapat kita temukan di Yehezkiel 34:1-16.

Di situ digambarkan tentang pemimpin Israel di jaman Yehezkiel. Mereka yang seharusnya menjaga umat, seperti seorang gembala merawat domba-dombanya, justru memangsa jemaat yang dipimpinnya. Umat diperas dan dimanfaatkan untuk memenuhi keinginan pribadi para pemimpin. Akibatnya Tuhan murka dan melalui Yehezkiel, menyatakan janji-Nya untuk menghukum mereka.

Karena itu, kalau kita adalah pemimpin gereja, di tingkat apapun, baik itu sebagai pengerja, anggota majelis jemaat, komisi, aktivis, apapun itu, selalu waspadalah akan ketidak-kudusan. Selalu timbang-timbang keputusan dan sikap yang kita ambil. Periksa apakah motivasinya murni. Apakah ada keuntungan pribadi atau kelompok yang sedang diutamakan di situ. Apakah jemaat akan dirugikan sementara kita diuntungkan melaluinya. Ingat juga selalu bahwa kita sedang membangun kerajaan Tuhan, bukan kerajaan kita sendiri.

Sementara itu, kalau kita menjadi yang dipimpin, adalah tugas kita untuk menjaga agar pemimpin kita tidak menjadi lalim. Dengan ikut mengontrol mereka melalui jalur-jalur pengawasan yang ada, ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan, memberikan kritik-kritik yang tepat, dsb. Hati-hati juga untuk kita tidak mengkultuskan orang-orang tertentu dan menjatuhkan mereka ke dalam pencobaan akan kesombongan

28 September 2012 pukul 18:52

Focus Mengarahkan Diri

Nats: Filipi 3:13
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.

Tidak dapat disangkal bahwa fokus adalah salah satu elemen penting bagi seseorang untuk mencapai tujuan. Ada kekuatan yang luar biasa di balik sebuah tujuan yang terarah dengan tajam. Bayangkan betapa hebatnya tenaga sinar matahari yang diarahkan dengan fokus kepada sebuah titik melalui kaca pembesar. Titik kecil yang terarah itu dapat membakar habis sebuah kertas, bahkan sebuah hutan.

Sedemikian berbahayanya kekuatan hidup yang terfokus sehingga iblis senantiasa berusaha membuat anak-anak Tuhan sibuk dan bahkan buta akan tujuan hidup mereka yang sesungguhnya. Kadang ada begitu banyak pintu peluang yang terbuka dan membuat kita bimbang untuk melangkah karena seolah semua peluang itu tampak begitu sempurna. Tidak jarang terbersit keraguan apakah pilihan yang akan diambil merupakan keputusan yang tepat dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bagaimana kerinduan rasul Paulus yang terutama adalah untuk mengenal Tuhan dan bersekutu denganNya. Fokus kehidupan Paulus hingga akhir hidupnya adalah senantiasa melekat kepada Tuhan. Itulah yang membuat ia bertahan dalam pelayanannya dan menjadi salah satu rasul terbesar dalam sejarah.

Ketika kita mulai menempatkan kembali Tuhan sebagai prioritas utama kita, percayalah bahwa kekuatan kuasaNya akan bekerja dengan dahsyat melalui hidup kita. Mari awali hari ini dengan mencari Tuhan telebih dahulu, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.

8 Oktober 2012 pukul 7:36

Jangan Kuatir, Tuhan Tak Pernah Kena Krisis.

Salah satu masalah psikologi yang kerap dialami oleh sebagian besar manusia adalah kekuatiran. Tidak jarang banyak orang yang mengalami hal ini menjadi depresi. Padahal kalau mereka mau sedikit berpikir jernih sebenarnya tidak ada yang perlu terlalu ditakutkan.

Kekuatiran biasanya menyerang pertama kali lewat pikiran. Apa yang kita lihat dan dengar menjadi faktor yang sangat kuat akan perubahan yang terjadi di dalam tubuh kita.

Banyak media yang memberitakan bahwa krisis yang terjadi di dunia ini akan berlangsung cukup lama. Sejumlah pakar ekonomi dunia juga belum bisa memprediksi kapan ekonomi global akan membaik. Seorang teman pernah mengatakan (entah bercanda atau tidak) kepada saya bahwa krisis global terjadi karena Kerajaan Surga juga sedang mengalami krisis sehingga Dia tidak dapat membebaskan negara-negara yang mayoritas penduduknya Kristen untuk hidup dalam kebebasan finansial.

Mengejutkan memang ada orang yang berpikir seperti itu, tetapi jangan-jangan ada diantara Anda juga yang berpikir seperti teman saya itu. Anda mengira "dunia menjadi susah karena Tuhan juga susah".

Di dalam Alkitab, banyak ayat yang menunjukkan tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Dari masa ke masa, Dia tetap merupakan sumber Pemelihara manusia yang paling sempurna. Alam semesta ada di bawah kendalinya dan tidak ada satu pun yang tidak dapat dikerjakannya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda dan orang-orang di sekitar Anda adalah tugas mudah bagi Tuhan. Dia dapat melakukan segala sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan. Untuk membuat Anda berkelimpahan juga bukanlah hal yang sulit baginya. Intinya, segala apapun yang Anda butuhkan pasti dapat Tuhan penuhi.

Oleh karenanya, mulai buang jauh-jauh rasa kuatir yang berlebihan dari hidup Anda. Jika Anda adalah orang yang sudah berkeluarga, yakinlah kebutuhan keluarga Anda pasti terpenuhi semua. Bagi Anda yang masih lajang, percayalah Dia dapat mencukupkan segala sesuatu di dalam kehidupan Anda. Untuk para profesional dan pengusaha, berimanlah apa yang Anda kerjakan atau usahakan tidak akan gagal meski di masa-masa sulit sekalipun.

Pegang terus prinsip ini bahwa Tuhan tidak pernah mengalami krisis dan Dia pasti dapat menjaga kehidupan kita dengan baik. Katakan kepada rasa kuatir yang hendak muncul di dalam pikiran dan hati Anda, "Stop hai kau rasa kuatir untuk terus tinggal di dalam kehidupan saya karena engkau tidak layak muncul disini. Tuhan adalah kekuatan dan pemelihara hidupku sehingga aku pun tidak perlu kuatir akan kehidupanku di dunia ini."

12 Oktober 2012 pukul 9:50

Antara Gossip dan Pelayanan.

Jika kita menjadi pemimpin atau pelayan Tuhan yang menonjol, pasti kita punya banyak pendukung. Disamping pendukung kita juga punya banyak oposisi. Seringkali oposisi lebih keras suaranya dan aksinya daripada pendukung. Kadang oposisi tidak segan meluncurkan peluru untuk menghancurkan kita berupa kata-kata yang tidak benar atau di salah artikan. Kata-kata yang tidak berdasar tersebut sering disebut dengan GOSIP.

Kembali kepada hidup yang diperkenan Tuhan, Bagaimana cara kita menghadapi gosip tadi ? Jangan sampai gosip tadi membuat kita marah lantas kita kecewa kepada Tuhan dan menghentikan pelayanan kita. Bahkan adapula karena gosip orang sampai mengundurkan diri dari pertemuan ibadah.
Salah satu penghambat pelayanan adalah gosip. Gosip membuat hal-hal yang belum pasti kebenarannya berkembang menjadi masalah besar. Diperlukan hikmat Allah untuk menentukan apakah suatu gosip perlu diklarifikasi atau lebih baik dibiarkan saja.

Mari kita telusuri dari Firman Tuhan dalam 2 Korintus 10 : 1 -18

10:1 Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.
10:2 Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.
10:3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
10:4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
10:6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
10:7 Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia.
10:8 Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.
10:9 Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku.
10:10 Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.
10:11 Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.
10:12 Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!
10:13 Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga.
10:14 Sebab dalam memberitakan Injil Kristus kami telah sampai kepada kamu, sehingga kami tidak melewati batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu.
10:15 Kami tidak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami. Tetapi kami berharap, bahwa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami.
10:16 Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka.
10:17 "Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."
10:18 Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.

Dalam pasal ini, Rasul Paulus mengungkapkan kekesalannya terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya hanya berani tegas dan keras bila berjauhan (dalam surat saja), tetapi sebenarnya tidak berani bila berhadapan muka (10:10). Rasul Paulus merasa kesal mendengar gosip semacam itu beredar di tengah jemaat Korintus karena dua hal: Pertama, berdirinya jemaat Korintus merupakan hasil pelayanan Rasul Paulus (10:14), sehingga seharusnya jemaat Korintus itu tahu bahwa gosip semacam itu tidak benar. Kedua, bila dibiarkan, gosip semacam itu bisa merusak wibawa Rasul Paulus, karena bila ia berkata keras dan tegas tentang sesuatu hal, perkataannya hanya dianggap sebagai menakut-nakuti dan sebenarnya tidak demikian (10:9).
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita agar tidak menyebar gosip yang akan menghambat pelayanan para hamba Tuhan. Sadarilah bahwa bila kita ikut menyebar gosip, kita sudah menjadi alat di tangan Iblis untuk merusak pekerjaan Allah. Bila ada gosip yang sudah telanjur beredar, ada empat hal yang perlu kita lakukan: Pertama, jangan mudah mempercayai suatu gosip, melainkan telitilah kebenaran gosip itu dengan seksama. Kedua, jagalah mulut kita agar kita tidak ikut-ikutan menyebar gosip yang akan menghambat pelayanan hamba Tuhan yang bersangkutan. Ketiga, bila dirasa perlu, temuilah hamba Tuhan itu untuk mengklarifikasi kebenaran gosip yang beredar. Keempat, doakan hamba Tuhan itu.

Bagaimana kalau kita yang menjadi korban gosip ? Kita perlu belajar dari Saul dimana pada awal pelayanannya Saul bukanlah tipe public figure yang mempunyai banyak penggemar, melainkan banyak orang yang berkata miring atas penampilan Saul, yang seharusnya tidak pantas menjadi Raja orang Israel.

Mari kita lihat 1 Samuel 10:17-27

10:17 Kemudian Samuel mengerahkan bangsa itu ke hadapan TUHAN di Mizpa
10:18 dan ia berkata kepada orang Israel itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku telah menuntun orang Israel keluar dari Mesir dan telah melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan segala kerajaan yang menindas kamu.
10:19 Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu."
10:20 Lalu Samuel menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin.
10:21 Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan.
10:22 Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: "Apa orang itu juga datang ke mari?" TUHAN menjawab: "Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang."
10:23 Berlarilah orang ke sana dan mengambilnya dari sana, dan ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.
10:24 Dan Samuel berkata kepada seluruh bangsa itu: "Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorang pun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu." Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: "Hidup raja!"
10:25 Kemudian Samuel menguraikan kepada bangsa itu tentang hak-hak kerajaan, menuliskannya pada suatu piagam dan meletakkannya di hadapan TUHAN; sesudah itu Samuel menyuruh seluruh bangsa itu pulang, masing-masing ke rumahnya.
10:26 Saul pun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah.
10:27 Tetapi orang-orang dursila berkata: "Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!" Mereka menghina dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli.

Kita sendiripun juga sering mendapat kesan buruk tentang Saul, raja pertama Israel. Namun demikian, Alkitab pun mencatat kebaikannya, khususnya saat ia akan memulai pelayanannya sebagai raja. Sebagai pemimpin ia tahu memilih mana suara yang perlu didengarkan di antara yang sama sekali tidak perlu. Terhadap jerit tangis putus asa bangsanya atas ancaman bangsa Amon, ia mampu mendengar dengan prihatin dan menanggapi dengan sigap (1 Samuel 11:1-7). Sedangkan, atas olokan dan penghinaan segolongan orang yang meragukan kemampuan dan kepemimpinannya, ia bersikap “pura-pura tuli” (ayat 27). Ia tak mau membuang energi sekadar meladeni mereka.
Kita tidak perlu marah terhadap orang fasik yang menghina pelayanan kita. Kita harus dapat seperti Saul yang pura-pura tuli terhadap omongan negatif dari orang-orang "fasik" di sekitar kita. Satu pusat yang wajib dan harus kita dengar adalah FirmanNya, yang setiap pagi wajib kita baca dan renungkan serta kita jalankan. Mengapa kita geram dan marah dengan komentar orang "fasik" ?

Mintalah hikmat dan kesabaran dari-Nya sehingga kita dapat memilah dan memilih mana yang perlu dan tidak perlu kita tanggapi secara serius. Supaya, kita tetap berfokus pada panggilan Tuhan dan tugas utama yang mesti kita kerjakan.

1 Februari 2013 pukul 8:20

Iman dan Kasih

IMAN mambawa hidup kita ke SURGA.
KASIH membawa SURGA ke dalam hidup kita.
 
IMAN memberi kita kekuatan.
KASIH mengalirkan kekuatan bagi orang lain.
 
Dengan IMAN kita melihat TUHAN di dalam dunia.
Dengan KASIH dunia melihat TUHAN di dalam hidup kita.