Kembali kepada hidup yang diperkenan Tuhan,
Bagaimana cara kita menghadapi gosip tadi ? Jangan sampai gosip tadi
membuat kita marah lantas kita kecewa kepada Tuhan dan menghentikan
pelayanan kita. Bahkan adapula karena gosip orang sampai mengundurkan
diri dari pertemuan ibadah.
Salah satu penghambat pelayanan adalah
gosip. Gosip membuat hal-hal yang belum pasti kebenarannya berkembang
menjadi masalah besar. Diperlukan hikmat Allah untuk menentukan apakah
suatu gosip perlu diklarifikasi atau lebih baik dibiarkan saja.
Mari kita telusuri dari Firman Tuhan dalam 2 Korintus 10 : 1 -18
10:1
Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan
kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan
kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.
10:2 Aku meminta
kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari
dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang
tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.
10:3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
10:4
karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi,
melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup
untuk meruntuhkan benteng-benteng.
10:5 Kami mematahkan setiap
siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan
manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala
pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
10:6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
10:7
Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar
yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam
hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia.
10:8
Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang
dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk
meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.
10:9 Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku.
10:10
Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila
berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.
10:11
Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa
tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam
surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.
10:12 Memang kami
tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan
orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur
dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan
diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!
10:13 Sebaliknya
kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam
batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas
sampai kepada kamu juga.
10:14 Sebab dalam memberitakan Injil
Kristus kami telah sampai kepada kamu, sehingga kami tidak melewati
batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu.
10:15
Kami tidak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di
daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami. Tetapi kami berharap, bahwa
apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih
besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang
dipatok untuk kami.
10:16 Ya, kami hidup, supaya kami dapat
memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah
kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di
daerah kerja yang dipatok untuk mereka.
10:17 "Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."
10:18 Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.
Dalam
pasal ini, Rasul Paulus mengungkapkan kekesalannya terhadap orang-orang
yang mengatakan bahwa dirinya hanya berani tegas dan keras bila
berjauhan (dalam surat saja), tetapi sebenarnya tidak berani bila
berhadapan muka (10:10). Rasul Paulus merasa kesal mendengar gosip
semacam itu beredar di tengah jemaat Korintus karena dua hal: Pertama,
berdirinya jemaat Korintus merupakan hasil pelayanan Rasul Paulus
(10:14), sehingga seharusnya jemaat Korintus itu tahu bahwa gosip
semacam itu tidak benar. Kedua, bila dibiarkan, gosip semacam itu bisa
merusak wibawa Rasul Paulus, karena bila ia berkata keras dan tegas
tentang sesuatu hal, perkataannya hanya dianggap sebagai menakut-nakuti
dan sebenarnya tidak demikian (10:9).
Bacaan Alkitab hari ini
mengingatkan kita agar tidak menyebar gosip yang akan menghambat
pelayanan para hamba Tuhan. Sadarilah bahwa bila kita ikut menyebar
gosip, kita sudah menjadi alat di tangan Iblis untuk merusak pekerjaan
Allah. Bila ada gosip yang sudah telanjur beredar, ada empat hal yang
perlu kita lakukan: Pertama, jangan mudah mempercayai suatu gosip,
melainkan telitilah kebenaran gosip itu dengan seksama. Kedua, jagalah
mulut kita agar kita tidak ikut-ikutan menyebar gosip yang akan
menghambat pelayanan hamba Tuhan yang bersangkutan. Ketiga, bila dirasa
perlu, temuilah hamba Tuhan itu untuk mengklarifikasi kebenaran gosip
yang beredar. Keempat, doakan hamba Tuhan itu.
Bagaimana
kalau kita yang menjadi korban gosip ? Kita perlu belajar dari Saul
dimana pada awal pelayanannya Saul bukanlah tipe public figure yang
mempunyai banyak penggemar, melainkan banyak orang yang berkata miring
atas penampilan Saul, yang seharusnya tidak pantas menjadi Raja orang
Israel.
Mari kita lihat 1 Samuel 10:17-27
10:17 Kemudian Samuel mengerahkan bangsa itu ke hadapan TUHAN di Mizpa
10:18
dan ia berkata kepada orang Israel itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah
Israel: Aku telah menuntun orang Israel keluar dari Mesir dan telah
melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan segala kerajaan
yang menindas kamu.
10:19 Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu
yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan
berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu,
berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu."
10:20 Lalu Samuel menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin.
10:21
Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum
keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah
kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati
Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan.
10:22
Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: "Apa orang itu juga datang
ke mari?" TUHAN menjawab: "Sesungguhnya ia bersembunyi di antara
barang-barang."
10:23 Berlarilah orang ke sana dan mengambilnya
dari sana, dan ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang
sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap
orang sebangsanya.
10:24 Dan Samuel berkata kepada seluruh bangsa
itu: "Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada
seorang pun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu." Lalu
bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: "Hidup raja!"
10:25
Kemudian Samuel menguraikan kepada bangsa itu tentang hak-hak kerajaan,
menuliskannya pada suatu piagam dan meletakkannya di hadapan TUHAN;
sesudah itu Samuel menyuruh seluruh bangsa itu pulang, masing-masing ke
rumahnya.
10:26 Saul pun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan
bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang
hatinya telah digerakkan Allah.
10:27 Tetapi orang-orang dursila
berkata: "Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!" Mereka menghina
dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli.
Kita
sendiripun juga sering mendapat kesan buruk tentang Saul, raja pertama
Israel. Namun demikian, Alkitab pun mencatat kebaikannya, khususnya saat
ia akan memulai pelayanannya sebagai raja. Sebagai pemimpin ia tahu
memilih mana suara yang perlu didengarkan di antara yang sama sekali
tidak perlu. Terhadap jerit tangis putus asa bangsanya atas ancaman
bangsa Amon, ia mampu mendengar dengan prihatin dan menanggapi dengan
sigap (1 Samuel 11:1-7). Sedangkan, atas olokan dan penghinaan
segolongan orang yang meragukan kemampuan dan kepemimpinannya, ia
bersikap “pura-pura tuli” (ayat 27). Ia tak mau membuang energi sekadar
meladeni mereka.
Kita tidak perlu marah terhadap orang fasik yang
menghina pelayanan kita. Kita harus dapat seperti Saul yang pura-pura
tuli terhadap omongan negatif dari orang-orang "fasik" di sekitar kita.
Satu pusat yang wajib dan harus kita dengar adalah FirmanNya, yang
setiap pagi wajib kita baca dan renungkan serta kita jalankan. Mengapa
kita geram dan marah dengan komentar orang "fasik" ?
Mintalah
hikmat dan kesabaran dari-Nya sehingga kita dapat memilah dan memilih
mana yang perlu dan tidak perlu kita tanggapi secara serius. Supaya,
kita tetap berfokus pada panggilan Tuhan dan tugas utama yang mesti kita
kerjakan.
1 Februari 2013 pukul 8:20